Good Story : Tak lagi Istimewa

Good story copas from mailist sehat mailing list today..

Thanks to Pak’e Ghozan yg mau berbaik hati sharing cerita ini…

Jadi pengen hunting buku Mediya derni ini..udh punya buku dia yang lain,tapi yg ini blm punya…jd pengen punya…

******************************
Tak Lagi Istimewa

Mamiek Syamil

Jonesboro, Januari 2006

Dikutip dari buku : My Special Child oleh Meidya Derni dkk

Dokter Curry masuk ke dalam ruang periksa. Dokter itu menarik napas

dalam. Tiba-tiba, aku menjadi cemas. Berita burukkah? “Ada pembesaran di

ginjal bayi” kata dokter Curry. Singkat. Badanku pun seolah melayang.

Ada getaran yang saya coba tutupi.”Apa artinya pembesaran ginja?” aku

bertanya-tanya dalam hati.

Seolah memahami ketidak­tahuanku, Dokter Curry melanjut­kan, “Pembesaran

itu menunjuk­kan aktivitas yang tidak normal pada ginjal. Jika ternyata

mem­bahayakan sang bayi, kemung­kinan akan dilakukan operasi sebelum

bayi itu lahir.”

Deg! Jantungku serasa berhenti sejenak. Aku berusaha meng­umpulkan semua

kekuatan. Operasi sebelum bayinya lahir? Sungguh, aku tak sanggup

membayangkannya. Dulu sekali, aku pernah mendengar tentang fetus

surgery, yaitu operasi saat bayi masih dalam kandungan. Namun, saat itu

operasi semacam itu dijalankan dalam proses penelitian. Bagaimana

mungkin aku harus menjalani sesuatu yang masih dalam tarat penelitian?

Seribu satu kecemasan menyergap. Tiba-tiba, aku merasa seperti masuk ke

dalam sebuah lorong panjang yang gelap. Dokter Curry menganjurkan agar

kami menemui seorang dokter ahli fetus untuk melakukan konsultasi. Kami

tinggal di kota keci!. Dokter ahli semacam itu tidak tersedia di kota

kami. Pilihan kota terdekat adalah Memphis, sekitar 100 kilometer dari

kota kami. Dan Dokter BK adalah ahli yang dimaksud (dia memilih

dipanggil “BK” karena nama aslinya susah diucapkan).

Dengan rasa hati yang campur aduk, kami pun menjadwalkan untuk bertemu

dengan dokter itu. Pada konsultasi yang pertama, tim dari klinik dokter

BK melakukan USG secara teliti. Dua jam berikutnya, aku dan suamiku

menunggu dengan cemas di ruang konsultasi. Tak henti kupandangi meja

bundar yang terhampar di hadapanku. Dengan jelas terlihat kecemasan

wajahku memantul di permukaan meja yang mengilap. Aku berusaha

menenangkan diri saat Dokter BK masuk ke ruang itu. Dokter itu membuat

coret­-coretan di selembar kertas. Kemudian, kertas itu disodorkan

kepada kami.

“Ada tiga hal yang menjadi titik perhatian saya,” ujar dokter BK.

Aku tidak mengerti. Tiga?

“Pertama, ada pembesaran di ginja!.” Ya … aku tahu itu.

Lantas?

“Kedua, sepertinya ada pembesaran di bagian kepala. Mungkin

hydrochepalus ….” Sebuah sembilu seolah mulai menyayat pelan di ulu

hatiku. Ya Allah ….

“Ketiga, ada kemungkinan clubfeet.” Tetesan darah seolah mulai mengalir

dari sayatan sembilu itu. Perih …! Kulihat suamiku menarik napas

dalam. Aku tahu, dia pun merasakan keperihan yang sama. Dulu, aku pernah

mendengar tentang clubfeet ini, yaitu kelainan pada bentuk kaki.

Dokter BK juga menyinggung kemungkinan dilakukan tes amniocentesis,

yaitu mengambil contoh air ketuban dengan cara memasukkan sebuah jarum

ke dalam rahim. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan

terjadinya birth defect Namun, dari berbagai artikel yang kubaca, tes

ini mempunyai risiko yang besar terhadap keguguran. “Tidak!” kataku

dalam hati. Aku tidak akan pernah bersedia melakukan tes itu. Aku tidak

akan mempertaruhkan keselamatan bayiku. Kalau pun seandainya aku

bersedia melakukan tes itu, kemudian dari tes itu diketahui bahwa bayiku

mengalami birth defect, lantas mau apa?! Digugurkan! Itulah salah satu

pilihan yang sering diambil oleh orang Amerika. Tidak! Aku tidak akan

melakukan itu.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah sejauh 100 kilometer itu, tak

hentinya aku mengutuk pertemuan dengan Dokter BK. Bukankah seandainya

kami tidak bertemu dengannya, kami tidak perlu tahu kondisi bayi kami?

Apa untungnya mengetahui bahwa bayi kami akan lahir cacat? Setetes demi

setetes, air mata mulai membasahi pipiku. Ini adalah anak laki-Iaki kami

yang pertama setelah dua anak kami sebelumnya adalah perempuan. Anak

laki­laki kami akan cacat! Keputusanku telah bulat!

“Aku tidak mau lagi konsultasi ke Dokter BK! Cukup! kataku dengan emosi

kepada suamiku.

“Jangan emosi dulu …,” dia berusaha menenangkan.

“Apa yang kudapat dengan konsultasi itu? Tidak ada! Hanya berita bahwa

anak kita akan cacat. Hanya menambah beban pikiranku, dan tidak menolong

apa pun!!” teriakku.

“Siapa tahu bisa dikoreksi sebelum lahir …,” suamiku masih mencoba

menghibur, meskipun aku tahu ada kecemasan yang sarna di matanya.

“Dikoreksi apanya? Dioperasi sebelum lahir? Gila! Itu sama dengan bunuh

diri!” Aku pun bercerocos tentang kemungkinan Dokter BK menggiring

kehamilanku pada diagnosis versinya sendiri, sehingga aku bisa dijadikan

kelinci percobaan untuk penelitian fetus surgery. Tidak! Aku tidak mau!

Rasanya pandangan mata dan pikiranku gelap pekat. Air mataku pun tumpah

ruah. Aku mengguguk dengan tangisan yang telah bertahun-tahun tidak

pernah hadir dala hidupku. Ya Allah …, berilah kekuatan kepadaku atas

cobaan-Mu ini. “Akan kuterima anakku apa adanya …,” bisikku seolah

berkata pada diri sendiri.

Suamiku berusaha menggoyahkan pendirianku agar aku tetap berkonsultasi

ke dokter BK. Menurut suamiku, konsultasi itu penting untuk menentukan

apa yang diperlukan menjelang kelahiran bayi kami nanti seandainya benar

dia seperti yang didiagnosis oleh dokter BK. Sebagai contoh, kalau

pembesaran ginjal itu masih menjadi masalah sampai dia lahir, mungkin

dokter ahli ginjal harus dipersiapkan menjelang dia lahir demi

menghindari kegagalan ginjalnya. Perlu waktu beberapa hari untuk

merenungkan kembali semuanya. Akhirnya, dengan pikiran yang lebih jernih

aku setuju untuk melanjutkan konsultasi itu.

Pikiranku pun melayang membayangkan berapa ibu hamil yang telah rela

atau terpaksa untuk berbaring di meja bedah, menjalani prosed ur

pembedahan saat janin masih didalam kandungan. Di satu sisi, si ibu

berharap operasi itu mampu memperbaiki kondisi bayinya. Disisi yang

lain,si ibu tersebut telah membantu dunia kedokteran sehingga para

dokter mampu mempelajari lebih jauh tentang tindakan operasi saat bayi

masih dalam kandungan. Semacam kelinci percobaan? Entahlah.

Bukankah semakin banyak operasi sejenis dilakukan, maka semakin banyak

pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang diperoleh oleh para dokter?

Dengan harapan dimasa mendatang semakin banyak bayi yang bisa ditolong.

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah membaca di suatau majalah tentang

seoarang ibu hamil yang bersedia menjalani operasi semacam itu. Janin si

ibu tersebut telah dideteksi menderita spina bifida. Operasi tersebut

dilkukan untuk menjajaki apakah suatu birth defect semacam spina bifida

bisa dikoreksi sebelum bayi lahir. Sebuah pengorbanan atas nama harapan

dan ilmu pengetahuan.

Sementara menunggu jadwal konsultasi berikutnya dengan Dokter BK, aku

pun sibuk mencari segala informasi tentang pembesaran ginjal,

hydrochefalus dan club feet. Hampir semua info yang kudapat adalah

berita buruk. Ada cerita seorang bayi lahir dengan kaki bengkok,

sehingga sejak lahir bayi itu memakai semacam sepatu dari besi. Sepatu

itu lama kelamaan melukai kulit si bayi dan membuatnya infeksi. Tak

terasa air mataku berderai membayangkan bayiku harus memakai sepatu

seperti itu. Cerita-cerita yang lainnya kudapat dari penderita club feet

yang hingga dewasa harus mengalami penderitaan lahir dan batin karena

ejekan orang-orang melihatnya (bahkan sebuah pandangan mata keheranan

pun serasa sebuah tusukan pisau).

Namun, di antara segudang cerita sedih dan harapan yang suram, sebuah

kisah menarik kudengar dari seorang ternan. Sekitar lima tahun yang

lalu, temanku tersebut mengalami hal serupa, janin dalam kandungannya

dideteksi dengan pembesaran ginjal. Setelah menjalani serangkaian

pemeriksaan secara intensif, dokter memutuskan untuk melakukan operasi

pada bayi saat bayi tersebut masih dalam kandungan. Didera ketakutan

yang amat sangat, dia pun “melarikan diri” ke tanah air, Indonesia, saat

kehamilan mencapai usia tujuh bulan. Alhamdulillah, bayinya kemudian

lahir dengan selamat, sehat, tanpa kekurangan suatu apa pun. Allahu

Akbar! Cerita itu menimbulkan setitik harapan. Ya … hanya setitik.

Bukankah apa yang terjadi pada orang lain tidak menjamin akan terjadi

kepadaku juga? Aku tidak berani bermimpi demikian indah. Aku tidak

berani melambung demikian tinggi. Jika nanti jatuh, sakitnya sungguh tak

terperi.

Aku pun menelepon ibu di tanah air untuk menumpahkan segala kesedihan.

Aku tahu ibu berusaha tabah saat berita tentang diagnosis bayiku

kusampaikan.

“Sudah … jangan bersedih,” kata ibu. “Kita tak sanggup berbuat

apa-apa jika Allah sudah memutuskan. Kita ini hanya makhluk-Nya. Jangan

berduka seolah-olah menyesali pemberian-Nya.”

“Masih ingat cerita masa kecilmu dulu?” tanya Ibu. “Judulnya ‘Sewidak

loro’*). Kamu suka sekali cerita itu.”

“Aku sudah lupa …,” kataku. Hmm …, aku ingat saat kecil dulu

sering dibacakan cerita berbahasa Jawa.

“Cerita itu mengisahkan seorang gadis yang jelek luar biasa, giginya

cuman dua, rambutnya jarang, mungkin jumlahnya hanya enam puluh.

Meskipun gadis itu demikian jelek, tapi cita-citanya tinggi. Dia ingin

menjadi permaisuri sang raja. Para tetangga menertawakan impian gadis

itu. Namun, ibu si gadis tidak putus asa. Dia percaya bahwa dengan doa

yang tulus dan tak henti-hentinya dari orangtuanya, pastilah impian itu

akan terwujud. Aku terdiam, tidak mengerti maksud ibu dengan cerita itu.

“Maksudnya, kamu adalah ibu si bayi. Siapa tahu, dengan kehendak Allah

kamu bisa mengubah nasib si bayi, asalkan kamu. bersungguh-sungguh

memohon kepada-Nya.”

Ada semburat harapan di ufuk qolbuku. Ibu …, engkaulah matahariku. Dan

sekarang, aku harus menjadi matahari untuk anakku.

Sajadah pun kugelar, terutama di tengah kesunyian malam. Kuingin

mengetuk pintu Illahi Rabbi, memohon belas kasihan untuk si jabang bayi.

Duh Gusti … siapa yang lebih kuasa daripada Engkau?

Namun, aku sadar sesadar-sadarnya, bahwa kadang Allah menunjukkan cinta

dengan cara yang tidak kita mengerti. Aku melihat orang-orang di

sekelilingku. Betapa banyak anak-anak yang lahir dengan kondisi yang

tidak sempurna, padahal aku yakin orangtuanya pun tak pernah berhenti

berdoa dan meminta. Aku ingat suatu ketika, di suatu mailing list ada

seorang ayah yang seolah “protes” karena anaknya dinyatakan menderita

down syndrome oleh dokter.

“Bagaimana mungkin anak saya menderita keterbelakangan mental? Kami

kedua orangtuanya adalah master lulusan luar negeri. Kami orang pandai

dan cerdas, tidak mungkin punya keturunan yang demikian,” tulisnya

dengan nada marah, sedih dan gusar. Rekan­-rekan di mailing list

tersebut berusaha menghibur dan memberikan dukungan moral.

“Mungkin, Anda adalah orangtua yang istimewa, oleh sebab itu, Tuhan

memberi Anda anak yang istimewa,” tulisku di e-mail balasan. Aku

membayangkan tantangan berat yang harus dihadapinya untuk membesarkan

dan mendidik anaknya itu. Hanya orangtua dengan kemampuan luar biasa

yang sanggup menghadapinya. Dan Tuhan tahu kemampuan umat-Nya.

Kini, tantangan itu terhampar di hadapanku. Ada “anak istimewa” yang

dikirim Allah untukku. Aku membayangkan saat Allah menciptakan kakinya

yang club feet, pastilah Allah menciptakannya dengan cara “handmade”

(dengan khayalan bodoh bahwa kaki manusia normal yang terlihat sama dan

berjumlah milyaran itu diciptakan melalui “mesin”-nya Tuhan). Sanggupkah

aku menjadi orangtua istimewa untuk anak yang istimewa itu?

Kebetulan juga aku tergabung dalam mailing list yang banyak membahas

tentang anak-anak berkebutuhan khusus (special needs). Dari milis itu

pula, aku banyak belajar dan .memahami bagaimana perjuangan para

orangtua untuk menuntun, mendidik, dan membimbing anak-anak mereka

menuju masa depan yang cerah. Sungguh, aku terkesan dengan kata “special

needs” karena mereka memang spesial.

Bulan demi bulan berlalu. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan tanda

perbaikan pada bayiku. Kemungkinan dia lahir dengan hydrochepalus

semakin mengecil. Demikian juga pembesaran ginjal semakin memperlihatkan

perbaikan meskipun tetap diwaspadai. Dan clubfeet? InsyaAllah semakin

membaik. Ya … InsyaAllah karena semuanya masih perkiraan dari hasil

USG. Betapa pun canggih teknologi yang dipakai, siapa bisa bersaing

dengan kehendak-Nya?

Tanpa terasa tibalah saat kelahirannya. Tanpa perjuangan yang berat, si

kecil pun lahir ke dunia! Perawat meletakkan bayiku ke dalam pelukanku.

Alhamdulillah, Ya Allah … dia memang tidak lagi istimewa. Tetapi dia

adalah unik. Bukankah setiap anak diciptakan dengan keunikan yang

tersendiri? Kini sebuah doa kupanjatkan kepadaNya, “Bimbinglah aku dalam

membimbingnya ”

Belakangan baru kuketahui bahwa prosedur fetus surgery sudah semakin

berkembang. Beberapa rumah sakit besar di Amerika telah mempunyai tim

dokter yang tangguh untuk menjalankan operasi semacam itu.****

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.amiiin

*”Khairun naasi anfa’uhum linnaas.”*

This entry was posted in good story. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s