[sehat] [news] Susu Formula Memang Tak Steril—–>GO ASI..GO…

Copas from milis sehat posted by Bapak’e Ghozan…

Susu Formula Memang Tak Steril

Oleh WIDODO JUDARWANTO

Penemuan para peneliti dari Institut Pertanian Bogor mengenai adanya
Enterobacter sakazakii (E sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan
bubur bayi cukup menghebohkan masyarakat. Temuan ilmiah berharga ini
ternyata disikapi secara tidak etis dan tidak profesional oleh pejabat
Departemen Kesehatan.

Temuan itu dianggap ada maksud tertentu karena disponsori oleh pihak
ketiga. Bahkan, selanjutnya pejabat Departemen Kesehatan dan Balai
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan gagahnya mengatakan bahwa susu
bayi aman untuk dikonsumsi. Benarkah susu formula bayi aman dikonsumsi?
Benarkah temuan peneliti IPB tersebut? Susu formula manakah yang bermasalah?

Sebenarnya, temuan peneliti IPB terhadap 74 sampel susu formula dengan
13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut mungkin
tidak terlalu mengejutkan. Ini karena United States Food and Drug
Administration (USFDA) telah melansir sebuah penelitian prevalensi
kontaminasi di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk formula dan
didapati 20 (14 persen) kultur positif E sakazakii. Dari berbagai
penelitian dan pengalaman di beberapa negara, sebenarnya Badan Kesehatan
Dunia (WHO), USFDA, dan beberapa negara maju lainnya telah menetapkan
bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang steril.
Susu formula cair yang siap saji dianggap sebagai produk komersial yang
lebih steril karena melalui proses pemanasan yang cukup.

Di bagian perawatan bayi intensif (neonatal intensive care unit/NICU),
USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi
formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan
terhadap infeksi bakteri itu. Sayangnya, di Indonesia produk susu
tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya.

Gejala reaksi simpang yang dapat timbul akibat susu formula bayi
disebabkan berbagai komponen biokimia atau bahan yang terkandung di
dalamnya. Manusia dapat mengalami reaksi gangguan tubuh karena susu itu
telah terkontaminasi bakteri.

Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di
dalamnya terdapat komponen biokimia yang diperlukan oleh bakteri untuk
tumbuh dan berkembang. Selain E sakazakii, bakteri lain yang sering
mengontaminasi susu formula di antaranya adalah Clostridium botulinum,
Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides, Escherichia coli,
Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, dan Salmonella
ealing, serta berbagai jenis salmonella lainnya.

“Enterobacter sakazakii”

E sakazakii pertama kali ditemukan tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan
infeksi meningitis. Sejauh ini dilaporkan beberapa kasus serupa di
beberapa negara. Meski bakteri ini dapat menginfeksi bayi segala usia,
risiko terbesar terkena adalah usia bayi.

Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian NICU beberapa
rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada. Di Amerika Serikat
angka kejadian infeksi E sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per
100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian 9,4 per 100.000 pada
bayi dengan berat lahir sangat rendah ($supresres< C dalam proses pemanasan
rehidrasi susu formula.

Rekomendasi aman

Melihat beberapa fakta ilmiah tersebut, tampaknya berbagai pihak harus
arif dan bijak dalam menyikapi kekhawatiran ini. Pemerintah dalam hal
ini Departemen Kesehatan dan BPOM harus menyikapi secara profesional
dengan melakukan kajian ilmiah mendalam, baik secara biologis,
epidemiologis, maupun pengalaman ilmiah berbasis bukti (evidence based
medicine). Jangan terburu-buru mengemukakan rekomendasi sebelum kajian
tersebut secara ilmiah menunjukkan keamanan produk itu.

Masyarakat awam juga jangan terlarut oleh psikologi massa yang sedang
heboh. Cermati benar informasi yang diterima dan fakta yang benar.
Sebelum ada rekomendasi resmi yang berbasis ilmiah dari pemerintah,
sebaiknya menganut rekomendasi WHO dan USFDA. Beberapa negara maju
lainnya telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk
komersial yang steril.

Orangtua harus tetap waspada dan tidak perlu khawatir berlebihan
ternyata temuan tersebut juga pernah dilaporkan USFDA tetapi tidak
terjadi kasus luar biasa. Ini karena mungkin sebagian besar adalah kuman
nonpatogen atau yang tidak berbahaya dan yang berisiko terkena adalah
bayi berat badan lahir rendah, prematur, dan manusia dengan daya tahan
tubuh rendah lainnya.

Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi risiko infeksi
adalah cara penyajian yang baik dan benar. Masyarakat tidak perlu sibuk
mencari susu mana yang tercemar. Berdasarkan rekomendasi WHO dinyatakan
sehingga semua susu berisiko tercemar. Tetapi tidak perlu khawatir, hal
ini dapat disikapi dengan dengan pemanasan air di atas 70°C, bukan
dengan air mendidih. Sementara di bagian perawatan bayi NICU
direkomendasikan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk
penderita bayi prematur dan berat badan lahir rendah.

Rekomendasi lain di antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah
sedikit atau secukupnya untuk setiap kali minum guna mengurangi
kuantitas dan waktu susu formula terkontaminasi dengan udara kamar.
Meminimalkan hang time atau waktu antara kontak susu dan udara kamar
hingga saat pemberian. Waktu yang direkomendasikan tidak lebih dari
empat jam. Semakin lama, risiko pertumbuhan mikroba dalam susu formula
tersebut makin meningkat.

Hal lain yang penting adalah memerhatikan dengan baik dan benar cara
penyajian susu formula bagi bayi sesuai dengan instruksi pada kaleng
atau petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi, dan
praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu
formula yang benar.

Terlepas dari kontroversi itu, sebaiknya pemerintah dalam hal ini
Departemen Kesehatan dan BPOM harus bertindak cepat dan profesional
sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sebaiknya
institusi tersebut mengeluarkan rekomendasi resmi berdasarkan kajian
ilmiah yang dalam dan cermat. Jangan sampai bersikap terburu-buru dan
salah dalam mengeluarkan rekomendasi. Rekomendasi yang tidak tepat akan
mempertaruhkan jutaan nyawa anak Indonesia. Tidak ada salahnya
masyarakat sementara ini tetap mengacu pada rekomendasi institusi
kesehatan internasional bahwa susu susu bubuk formula bayi memang
bukanlah produk komersial yang steril.

DR WIDODO JUDARWANTO SpA Picky Eaters Clinic/ Klinik Alergi Anak, Rumah
Sakit Bunda Jakarta

http://cetak.kompas.com/read/2008/03/14/01572796/Susu.Formula.Memang.Tak.Steril

Bonus :

BAHAYA SUSU FORMULA
(Apr 06, 2007 at 12:08 AM) –
ketika pemberian ASI hususnya pemberian ASI saja tidak dilakukan secara
benar, susu formula biasanya dipakai. Kode
internasional pemasaran pengganti ASI dari WHO mensyaratkan bahwa para
orang tua harus diberi informasi mengenai
ancaman kesehatan dari pemberian susu formula.

1. MENINGKATNYA RISIKO ASMA

Sebuah penelitian yang melibatkan 2.184 anak yang dilakukan oleh rumah
sakit khusus anak di toronto menemukan
bahwa risiko asma dan kesulitan bernafas sekitar 50% lebih tinggi jika
bayi diberi susu formula dibandingkan dengan
bayi yang diberikan ASI selama 9 bulan atau lebih (Dell S, To T.
Breastfeeding and Asthma in Young Children. Arch.
Pediatr Adolesc Med 155:1261-1265,200)

Peneliti di Australiat Barat Yang melakukan pengamatan pada 2.602 anak
untuk mempelajari timbulnya asma dan
kesulitan berfanas pada anak-anak di usia enam tahun. tidak memberikan
ASI meingkatkan risiko sebesar 40%
dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI secara benar selama empat
bulan. para penulis merekomendasikan
pemberian ASI eksklusif minimal 4 bulan untuk menurunkan risiko asma
(Oddy WG, Peat JK, De Klerk NH. Maternal
Asthma, infant feeding. and the risk for asthma in childhood. J. allergy
clinic immunol. 110:65-67,2002)

para peneliti yang meninjau kembali 29 penelitian yang mengevaluasi efek
perlindungan dari pemberian ASI terhadap
asma dan penyakit alergi lain. sesudah memberikan kriteria yang ketat
untuk penilaian, 15 penelitian masuk dalam
pengkajian ini. kelima belas penelitian ini menunjukan bahwa pemberian
ASI memberikan efek melindungi terhadap
ASma dan penyakit alergi lain (dan sebaiknya pemberian susu formula
meningkatkan risiko tersebut. mereka
menyimpulkan bahwa semua penelitian memberikan bukti-bukti jelas dan
konsisten bahwa pemberian ASI melindungi
bayi dari asma dan penyakit alergi lain. (Oddy WH, Peat JK.
Breastfeeding, Astma, and atopic deaseas: an
epidimiological review of the literature. J. Hum Lact 19:250-161, 2003)

2. MENINGKATKAN RISIKO ALERGI

Anak-anak di Finlandia semakin lama diberi ASI akan semakin rendah
menderita alergi, penyakit kulit (eczema), alergi
makanan dan alergi saluran nafas. saat mencapai 17 tahun, kejadian
alergi saluran nafas pada remaja yang hanya
diberi ASI sebentar waktu bayi adalah 65%, dan bagi yang diberi ASI
terlama saat bayi ankanya menjadi 42%.
(Soarinen, UM, Kajosari M. Breastfeeding as a prophylactic against
dease. prospective follow up study until 17 years old.
lancet 346:1065-1069:1995)

Sebuah penelitian prospektif longitudinal yang melibatkan 1.246 bayi
sehat di arizona, AS bertujuan untuk menemukan
adanya hububngan antara pemberian ASI dan kejadian sulit bernafas
(mengi) saat ini. Hasilnya menunjukan bahwa
anak-anak tanpa atopy di usia enam tahun, yang tidak diberi ASI waktu
bayi, memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk
menderita kesulitan bernafas saat sekarang. (wright AL, holberg CJ,
taussig LM, Martinez FD, relationship of infant
feeding to recurrent wheezing at age 6 years. arch pediatr adolesc Med
149:758-763,1995)

penelitian lain terhadap bayi-bayi dengan ibu yang mempunyai riwayat
alergi pernafasan atau asma dilakukan
pemeriksaan untuk kasus-kasus penyakit alergi kulit dalam usia satu
tahun pertamanya. dilakukan pemeriksaan
terhadap 76 anak di belanda dengan penyakit alergi kulit dan 228 anak
tanpa penyakit aloergi kulit. hasilnya menunjukan
bahwa pemberian asi eksklusif hanya tiga bulan pertama saja terbkti
memiliki efek perlindungan terhadap penyakit
kulit.(Kerkhof M, koopman LP van strien RT, et al. risk factors for
atopic dermatitis in infants at high risk of allergy: he
piama study. clin exp alergy 33:13336-13341, 2003)

http://selasi.org – SENTRA LAKTASI INDONESIA : dari kita untuk Anak
dunia Powered by Mambo Generated:18 June, 2007, 16:42

3. MENURUNNYA PERKEMBANGAN KECERDASAN (KOGNITIF)

sejumlah 3.880 anak australia diikuti sejak lahir untuk menentukan pola
pemberian ASI dan perkembangan kognitif anak
selanjutnya. anak-anak yang mendapatkan ASI selama enam bulan atau lebih
mendapat skor 8,2 poin lebih tinggi untuk
anak perempuan dan 5,8 poin lebih tinggi untuk anak laki-laki dalam tes
kosa kata, dibandingkan dengan anak-anak
yang tidak pernah diberi ASI. (quinn PJ, O`callagan M, Williams GM,
Aderson MJ, Bo W. The effect of breastfeeding on
child dev. at 5 years: a cohort study. J Peadiatr child health
37:465-469, 2001)

Anak usia sekolah (439) uamg ,e,[imuao nerat nadam ;ajor liramg daro
1.500 gr da lahir di AS antara tahun 1991 dan
1993 diberikan berbagai tes kecerdasan. bayi dengan berat lahir sangat
rendah yang tidak diberi ASI ternyata
mendapatkan skor yang lebih rendah dalam semua fungsi intelektual,
kemampuan verbal, kemampuan visual-spasial
dan visual-motorik dibandingkan bayi yang diberi ASI.(Smith MM, Durkin
M, Hinton VJ, Bellinger D, kuhn L. Influesce of
breastfeeding on cognitive outcomes at age 6-8 follow-up pf very
low-birth-weight infants. Am J Epidemiol 159:1075-
1082, 2003)

Untuk menentukan pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap perkembangan
ognitif dari bayi kecil untuk masa
kehamilan, dilakukan penelitian yang berpusat di AS dan melibatkan 220
bayi, dengan mnggunakan skala tumbuh
kembang bayi bayley pada usia 13 bulan , dan hasil tes kecerdasan
wechler untuk usia pra sekola dan sekolah dasar
untuk usia lima tahun. para peneliti menyimpulkan bahwa pemberian ASI
secara eksklusif (tanpa makanan/minuman
lain) kepada bayi kecil untuk masa kehamilan memberikan keuntungan yang
signifikan bagi perkembangan kognitifnya
tanpa mengorbankan pertumbuhannya. (Rao MR, Hediger ML, Levine RJ, Nancy
AB, Vik T. Efect of breastfeeding on
cognitive development of infants born small for gestational age. arch
pediar adolesc 156:651-655, 2002)

kentungan pemberian ASI memiliki potensi jangaka panjang dalam kehidupan
seseorang melalui pengaruhnya pada
perkembangan kognitif dan pendidikan masa kanak-kanak. disimpulkan dari
penetian di inggris ini. analisa regresi
dipakai untuk menentukan bahwa pemberian ASI secara signifikan dan
positif berhubungan dengan tingkat pendidikan
yang dicapai pada usia 26 tahundan juga kemampuan ognitif pada usia
53tahun. (Ricards M, Hardy R, Wodsworth ME.
long-term effects of breastfeedng in a national cohort: educational
attainment and midlife cognition function. publ health
Nur 5:631-635, 2002)

http://selasi.org – SENTRA LAKTASI INDONESIA : dari kita untuk Anak
dunia Powered by Mambo Generated:18 June, 2007, 16:42


*"Khairun naasi anfa'uhum linnaas."*

This entry was posted in good article, milis sehat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s